Minggu, 30 Juni 2013

Mempersiapkan Diri Menuju Pernikahan

Banyak yang beranggapan bahwa membekali diri dengan mempelajari buku-buku tentang pernikahan dan mengikuti berbagai pengajian adalah langkah yang cukup untuk mempersiapkan diri menjelang pernikahan. Tidak demikian juga sebenarnya. Sebanyak apapun ilmu tentang pernikahan yang kita serap, sebagus apapun buku yang kita baca dan sepandai apapun konsultan pra-nikah telah membimbing kita, semua pada dasarnya akan kembali lagi kepada kita secara personal. 


Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِي
Artinya:
Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.
[Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 625)]


Menurut saya, pernikahan merupakan tacit knowledge. Pengetahuan yang sulit dikomunikasikan karena tolak ukur kemampuannya berdasarkan pada kebiasaan yang ada pada tiap individu yang melaksanakan lembaga pernikahan. Namun, tacit knowledge ini bisa menjadi explicit knowledge melalui pengalaman-pengalaman yang telah dialami individu tersebut. Beberapa orang ada yang merasa takut untuk menikah karena merasa tidak siap. Khawatir bahwa kehidupan setelah pernikahan tidak akan sebahagia sebelumnya. Khawatir bahwa tidak akan sanggup menyelaraskan diri dengan pasangan, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Boleh saya katakan, ini merupakan hal klasik. Anda tidak sendirian dan semua orang tentu mengalaminya, nah disinilah letak perbedaan antara tiap individu, yakni dalam cara menyikapinya.

Tidak gampang memang, dan janganlah dipersulit. Tetaplah berpikiran positif bahwa anda dan pasangan anda telah ditakdirkan Allah untuk berdua, menjadi sepasang suami istri yang akan selalu bersama berjuang demi kebahagiaan bersama. Saling melengkapi, mengingatkan dan membahagiakan tidak hanya dalam urusan kehidupan duniawi. Ada tujuan yang lebih kekal, yakni berbahagia bersama dan dipertemukan Allah kembali di Jannah-Nya...aamin ya rabbal 'alamin...

Ada beberapa hal yang harus menjadi concern utama bagi yang belum menikah atau yang sedang mempersiapkan pernikahan:
- selain menambah ilmu dengan banyak membaca dan mendengarkan kajian ceramah, rajin-rajin juga sharing dengan ibu, tante atau dengan teman-teman yang telah lebih dahulu menikah. Ambil dan seraplah hal-hal positif. Lika liku dalam berumah tangga nanti pasti akan selalu ada. Disinilah kearifan dan kedewasaan kita diminta dalam menyikapi segala hal yang akan muncul.
- Jadikanlah akhirat sebagai fokus utama kita dalam mendirikan sebuah mahligai rumah tangga. Jadikanlah pernikahan sebagai ladang amal untuk menggapai ridho Allah subhanahu wa ta'ala.
- Persiapan mental tentu tidak hanya dari diri anda sendiri. Ada keluarga dari kedua belah pihak yang juga akan "dinikahkan".


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah. Percayalah bahwa niat baik, niat yang tulus ikhlas dalam menikah semata-mata untuk menggapai ridho Allah insya Allah akan selalu dimudahkan oleh Allah. Barakallah :)
Pernikahan (image by google.com/images)

Jumat, 28 Juni 2013

Munarman FPI menyiram muka Sosiolog Thamrin

Thamrin dikenal sebagai seorang tokoh liberal dan Munarman merupakan Humas dari FPI (Front Pembela Islam). Keduanya dipertemukan dalam program TV One Apa Kabar Indonesia Pagi, Jumat (28/6/2013) yang sedang membahas tentang pembatasan jam malam tempat hiburan di Jakarta, Munarman terlihat mengenakan kemeja batik putih lengan pendek. Sedangkan Thamrin mengenakan batik cokelat lengan pendek. 

Kemarahan Munarman dipicu oleh sikap Thamrin yang menyela di tengah penyampaian opininya ketika beliau berbicara tentang aksi sweeping yang dilakukan ormas FPI terhadap klub malam. Banyak sekali pihak yang menyayangkan sikap tokoh FPI ini. Banyak yang mencibir, menilai tidak sopan dan tidak heran hal ini menjadi perbincangan hangat di sosial media. Tapi, pandanyonyo ingin kita untuk mari melihat dari angle lain. Pohon disiram agar ia bisa tumbuh besar. Orang disiram? Mungkin agar ia bisa merenung panjang :)

http://www.youtube.com/watch?v=NFy8zMn-cPw

Feminisme : Pandangan Islam VS Teori Hubungan Internasional

Feminisme adalah sebuah kata yang diambil dari kalimat Perancis (féminisme) dan berasal dari kata Latin (femind), kemudian mengalami sedikit perubahan. Dalam bahasa Inggris dan juga Jerman, kata itu mempunyai arti yang sama. Feminine (feminim) bermakna wanita atau jenis perempuan. Istilah Feminisme dapat digunakan untuk dua makna. Makna pertama adalah makna yang telah digunakan secara umum dan telah dikenal, yakni sebuah pemikiran dan kebangkitan untuk membela hak-hak wanita atas laki-laki dalam dimensi sosial, ekonomi dan politik. 


Gagasan feminis muncul dengan sejumlah gugatan atas kemapanan studi HI yg dianggap male-bias. Kaum feminis menuntut keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam kehidupan masyarakat internasional. Pemikiran ini muncul sebagai kritik terhadap pemikiran mainstream tradisional yang masih mengedepankan state-centric. Sebagaimana pemikiran post-positivist lainnya, feminisme membawa semangat emansipatoris sebagai topik the third debate dalam kajian hubungan internasional.


Mary Wollstonecraft (1759-1799) dalam tulisannya, “Vindication of the Rights of Woman”. Wollstonecraft menuturkan bahwa manusia adalah spesies yang rasional yang dapat menentukan tindakan-tindakannya sendiri. Oleh sebab itu, feminism liberal mengadvokasi kehidupan perempuan yang otonom. Moral bagi feminis liberal tidak ditetukan oleh keluarga, negara, ataupun agama. Tapi setiap perempuan dapat betindak menurut pilihannya sediri asal tidak melawan hukum. Sungguh hal ini bertentangan dengan Islam. Hukum lebih ditakuti ketimbang agama. Naudzubillah...


Feminisme dijual dengan kemasan perjuangan perempuan, pembebasan wanita dan muncullah jargon keseteraan gender. Mereka seolah telah berjuang untuk wanita, peduli akan nasib golongan putri. Sehingga tak pelak lagi anak remaja kini termakan opini tadi. Ini yang mesti kita para keluarga muslim hadapi dengan bijaksana dan hati-hati. Tidak bisa dipungkiri laki-laki dan wanita memang berbeda, ini sunnah ketetapan Sang Pencipta. Perbedaan peran,  perbedaan fisik, tugas serta spesifikasi antara dua jenis kelamin manusia sudah dibawa secara fitrah sejak lahir. Sungguh tidak masuk akal (bagi akal yang sehat dan logis) jika ada yang berkata tak ada pembagian tugas baku antara keduanya, seperti pendapat kaum feminis.

Pembagian peran dan tanggung jawab sosial membawa implikasi pada perbedaan dalam berbagi bidang lain yang terkait dengan kehidupan rumah tangga. Ini yang diperangi para feminis. Berarti feminisme melanggar sunnatullah. Apapun kalau melanggar sunnatullah pasti berakibat pada pergeseran keseimbangan. Timpanglah kehidupan rumah tangga, kehidupan bermasyarakat dan seterusnya. Akhirnya timbul kekacauan.

Sumber : 

Catatan Perkuliahan Pribadi Penulis saat berkuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau 2007-2011

Apakah Feminisme itu? http://islamquest.net/id/archive/question/fa295

Feminisme, Kebaikan atau Kejahiliyahan? http://www.arrahmah.com/read/2011/12/19/16886-feminisme-kebaikan-atau-kejahiliyahan.html

image http://www.onislam.net/english/oimedia/onislamen/images/mainimages/India%20Muslim%20Women%20Demand%20Qur%E2%80%99anic%20Laws.jpg

Bahaya Pandangan Materialistis dan Hedonisme terhadap Umat Muslim

Pandangan materialistis saat ini telah banyak menerpa kehidupan manusia, terutama umat muslim. Yaitu mengedepankan cara pandang tentang kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia fana ini, sehingga aktifitas hidup yang dijalankan hanya berkisar pada masalah bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat dan sikap yang seharusnya dilakukan. Seolah menganggap, bahwa kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta. Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya. Sebagai efeknya, tak jarang wanita juga ikut bekerja membanting tulang, mengerahkan segala cara untuk mendapatkan harta yang banyak. Dalam benaknya, yang berkembang hanya bagaimana bisa menguasai dunia dengan harta berlimpah, seolah kebahagiaan dan ketenangan bergantung dengan harta, sebagaimana dalam firman Allah berikut ini :

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Artinya:

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

[QS. Asy - Syura : 27]


Selain pandangan materialistis, banyak remaja umat Islam yang mengalami penyakit hedonisme. Gemar berhura-hura demi kenikmatan dunia yang sesungguhnya bersifat sesaat. Tidak memikirkan lagi mana yang haram dan mana yang halal. Materialistis dan hedonisme memang merupakan rekanan, setali tiga uang istilahnya. Mengumpulkan kekayaan duniawi demi kepuasan serta prestise yang tentu saja hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan jannah yang telah dijanjikan oleh Allah. Kesempitan dalam rizki bukanlah suatu kehinaan, dan kelapangan dalam rizki bukanlah suatu keutamaan. Segala apa pun yang diperbuat Allah akan selalu dalam bingkai “maslahat”, meskipun itu bukan suatu keharusan bagi Nya. Allah maha tahu atas apa yang terbaik dan yang dibutuhkan hambanya. Seorang mukmin dianugerahi kelapangan rizki, karena Allah tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Andai saja ia diberi kesulitan dalam hal rizki, mungkin justru ia akan berbuat kerusakan. Dan seorang mu’min dianugerahi kesempitan dalam rizki, karena Allah pun tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Andai saja ia diberi kelapangan rizki, mungkin justru ia akan berbuat kerusakan. Menyesatkan dirinya sendiri dan melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah.


Segala bentuk keindahan di dunia janganlah dijadikan sebagai tujuan utama kita. Jangan sampai kita terjangkit penyakit wahn, yakni kelemahan umat Islam cinta kepada dunia dan takut kepada kematian. 



عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم -  يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَىعَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ . فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ  حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ


Artinya :
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” 
[HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud]


Gaya hidup seorang muslim tentu harus didasari oleh Al Qur’an dan Sunah, dan menjauhi pedoman, tujuan serta dasar hidup yang lebih mengutamakan kebendawian (pragmatis). Perubahan zaman yang semakin pesat dan mengikuti pola perkembangan sosial yang ada, orientasi kehidupan kaum muslimin semakin hari semakin jauh dari tuntunan Islam. Hal ini karena masyarakat khususnya kaum muslimin tak mengerti dan faham akan definisi dan makna gaya hidup. Ingatlah selalu bahwa dunia merupakan tempat singgah, bercocok tanam. Kita tidak akan menetap lama di dunia ini. Akhirat merupakan tujuan pasti. Gunakan dunia sebagai sarana perbekalan untuk di akhirat kelak.

Sumber:
Rahasia Allah atas si Kaya dan si Miskin (Tafsir QS. Asy-Syura 19-28)
http://lbm.lirboyo.net/rahasia-allah-atas-si-kaya-dan-si-miskin-tafsir-qs-asy-syura-19-28/
Dr. Amir Mahmud al-Maruf: Gaya Hidup Muslim Jauh Dari Tuntunan Islami
http://www.voa-islam.com/news/upclose/2013/03/20/23656/dr-amir-mahmud-almaruf-gaya-hidup-muslim-jauh-dari-tuntunan-islami/

Video Ceramah Singkat: Dunia Hanya Sementara - Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc. - Yufid.TV http://www.youtube.com/watch?v=ldh5QcBMACU

Kamis, 27 Juni 2013

Visi Ibu Hebat : Mendidik Anak di Bulan Ramadhan


When you educate a woman, you educate a generation.
(ketika kamu mendidik seorang wanita, kamu telah mendidik sebuah generasi)

Al-ummu madrasatul ulaa.

(ibu adalah sekolah pertama (bagi anak-anaknya))

Seorang ibu merupakan orang yang terdekat dengan anak-anaknya. Pendidikan, pola pikir, wawasan serta tentu keimanan seorang ibu berpengaruh besar terhadap perkembangan pola pikir dan tumbuh kembang anaknya kelak.Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya seperti mengajarkan anak tentang kebersihan dan ketauhidan sejak dini. Mendidik anak merupakan perkara yang luas karena anak merupakan generasi penerus yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orang tua, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an:

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya : 
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[QS. At-Tahrim : 6] 

Ada banyak motivasi syariat agar orang tua memiliki anak yang sholeh, seperti yang disebutkan dalam Hadist Rasulullah SAW:


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya :
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang sholeh.
[HR. Muslim no. 1631]

Anak sholeh akan senantiasa mendoakan orang tuanya bahkan ketika orang tuanya telah meninggal. Anak sholeh merupakan hasil usaha didikan dari ayah dan ibunya sehingga seluruh amal sholeh yang dilakukan oleh sang anak akan mengalir pada ayah ibunya..subhanallah..

Tidak terasa beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan momentum tepat untuk melatih dan mengajarkan anak-anak beribadah, seperti sholat dan puasa. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya:
Perintahkanlah anak-anak kalian utk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, & apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tak melaksanakannya, & pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.
[HR. Abu Daud no. 495]

Dalam khazanah fiqih Islam kita dapatkan bahwa mayoritas ulama memandang pentingnya pemberlakuan puasa bagi anak yang belum baligh meski tidak berstatus wajib, bahkan sebagian mereka seperti Ibnu Sirin, az-Zuhri, as-Syafii memandang sunnah dalam pembelajaran tersebut dengan catatan hal tersebut mampu dilakukannya secara normal, bahkan Ibnu Majisyun al-Maliki memandang agak berbeda dari para ulama maliki yang lain bahwa anak yang telah mampu berpuasa maka puasa baginya adalah keharusan dan jika meninggalkannya tanpa udzur maka harus membayarnya ( qadha). (lihat Fathul Bari; Ibnu Hajar al-Asqalani: 5/103). Sampaikanlah kebanggaan kita dan berilah hadiah ketika anak mampu melaksanakan puasa. Ajarilah anak tentang bersabar dalam berpuasa, akan mendapatkan pahala besar dan katakan bahwa ada pintu surga Ar-Rayyan yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berpuasa. 

Prioritaskanlah momentum Ramadhan ini sebagai waktu yang tepat untuk semakin menumbuhkan kecintaan anak terhadap ibadah sholat, puasa dan baca Al-Qur'an. Penuhi hati anak dengan nilai-nilai ketauhidan dan Al-Quran sehingga tidak ada lagi ruang di hati mereka untuk kemaksiatan. 

Sumber: 

Pedoman Orang Tua Tentang Puasa Bagi Anak-Anak http://www.dakwatuna.com/2010/08/18/7099/pedoman-orang-tua-tentang-puasa-bagi-anak-anak/#ixzz2XNiNNwsB 
Mendidik Anak Di Bulan Ramadhan 
http://www.youtube.com/watch?v=amOgLep4hOs

Rabu, 26 Juni 2013

Manajemen Umur Muslim Hebat

Bismillahirrahmaanirrahiim Alhamdulillah..finally selese juga baca buku Manajemen Umur..barakallahu..buat posting kali ini nda bakalan ngebahas secara ringkas isi buku tersebut..buku ini sangat layak dan penting untuk dibaca. Kutipan riwayat hadits-hadits yang mendukung, juga cukup jelas. Intinya lagi, buku ini memberikan perspektif baru tentang umur produktif dan persoalan yang berkaitan di dalamnya.


Bab Pertama buku ini membahas tentang urgensi dan pengertian umur panjang. Bab Kedua membahas tentang amal yang dapat memperpanjang umur. Bab Ketiga membahas kiat-kiat menjaga umur agar senantiasa produktif.

Sebagai seorang muslim,kita harus punya orientasi,tujuan hidup hanya untuk beribadah pada Allah,meningkatkan kualitas diri dengan amal shalih, supaya dapet rahmat Allah dan final goal nya ya masuk surga donk :D aamiin yaa Rabb..nah,umur rata2 manusia jaman sekarang tuh hanya 60-70 tahun..dengan 20-25 tahun masa produktif..sepertiga dari umur manusia digunakan untuk tidur (dengan asumsi tidur 8 jam di setiap harinya),2/3 lainnya digunakan untuk melakukan hal-hal mubah (berpahala engga,berdosa juga engga; seperti makan,minum,tidur,jalan2,mempelajari disiplin ilmu umum, menghibur diri,dll). See..perkara mubah dan tidur bener-bener menghabiskan umur kita..nah kita harus meniatkan amalan mubah tadi untuk meningkatkan ketakwaan dan ngehindarin diri dari kemaksiatan..so,kita bakalan pahala :D nah!bonus banged kan itu!

Well..sebanyak apapun amal yg kita lakuin,jatah umur ci tetep segitu ajah..wallahualam sepanjang or sependek apapun jatah umur yang telah tertulis untuk kita,kita harus pandai dalam me-manage umur kita..tujuannya tentu saja agar umur kita menjadi barokah..ada empat hal secara garis besar cara mencapai hal tersebut:
- Akhlak mulia
- Melakukan amalan dengan pahala ganda (banyaak bgd contoh amalan ganda; contoh paling gampang adalah membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali,itu sama dengan menamatkan Al-Qur’an)
- Melakukan amalan jariyah
- Memanfaatkan waktu

Supaya pemanfaatan waktunya makin berasa,makin produktif; maka ada empat hal juga diantaranya yang bisa kita lakuin..insya Allah,it’s so easy to do :D
- jangan ngelakuin dosa yang menghapus kebaikan 
- jangan bangga n ketipu sama banyaknya amalan; inget,keselamatan amal ada pada niat dan ketakwaan..kebinasaan amal ada pada putus asa ada pada ujub (bangga,sombong)
- jangan pernah rugikan orang lain; jangan ngegosip,ngambil hak orang lain,nyela orang,dll.
- waspadai dosa yang ga berhenti berbuah; a.k.a dosa jariyah..contoh kehidupan sehari-harinya nih yah..ada orang tua yg membelikan anaknya tv berlangganan..tentu saja mahal..kemudian dengan anak2nya menikmati tayangan yang dilarang Allah..ketika meninggal,anak-anaknya membuka film yang bertentangan dengan agama..bukankah seharusnya orang tua membeli hiburan yang justru mengajak keluarga untuk beribadah dan takut pd Allah..

Yeahh..alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah..bersyukur banged deh aa ngasi buku ini..moga uraian singkat ala nda ini bermanfaat buat yang ngebaca n ngenulis :) aamiin yaa Rabb..


Judul Buku : Manajemen Umur : Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia
Penulis : Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim
Penerbit : Pustaka At-Tazkia.
Buku ini terdiri dari tiga bab dan 237 halaman



Jumat, 21 Juni 2013

Jilbab bukan sekedar trend




Bismillahirahmanirahim..

Udah enggak aneh kita jumpai muslimah yang berjilbab di negara muslim terbesar di dunia ini. Beragam macam dan jenis jilbab dikenakan oleh mereka, dari yang hanya berjilbab ala kadarnya dengan poni masih terlihat dan tanpa menutupi dada sampai jilbab syari yang menutup penuh aurat mereka. Semua dilakukan oleh muslimah sebagai wujud taqwa atas perintah Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sayangnya jilbab sudah menuai perubahan makna, yang tadinya jilbab adalah pakaian longgar yang menutup seluruh aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki kecuali yang biasa tampak, menjadi hanya sebuah krudung ketat yang menempel erat di leher.

Jilbab juga yang tadinya simbol keimanan dan ketakwaan menjadi sebuah trend fashion yang dapat berubah sewaktu-waktu. Kebiasaan masyarakat yang termakan jaman menjadikan mereka gandrung trend fashion yang lagi “hits” saat ini, tak peduli lagi dengan fungsi jilbab itu sendiri. Tidak usah heran apabila kita temukan di sebuah artikel majalah fashion remaja wanita yang mengulas bagaimana jilbab juga bisa tetap mengikuti trend fashion saat ini dengan aksesoris juga jenis baju/celana yang jauh dari busana muslimah (jilbab) ideal yang sesungguhnya.

Walaupun sering dipaksakan namun pada kenyataanya para wanita muslimah di masyarakat kita banyak yang mengikuti trend tersebut. Entah karena takut ketinggalan jaman atau sekedar hanya ikut-ikutan karena kurangnya pemahaman yang menyeluruh akan artinya jilbab di dalam agama kita.

Arti memakai jilbab bagi beberapa muslimah juga dapat berarti sebuah usaha untuk mencapai sebuah kesalehan instan. Bagi wanita yang mampu memakai jilbab berarti dia sudah layak digelari sebagai seorang muslimah yang sholehah. Kita sudah terlalu sering menyaksikan secara gamblang para wanita yang mengaku berjilbab padahal dia hanya berkerudung dengan memakai pakaian ketat yang masih berkhalwat dengan bukan muhrimnya di tempat-tempat hiburan seperti mall, café dan sebagainya. Mereka sama sekali tidak menghiraukan bahwa kesalahpahaman makna jilbab pada masyarakat bisa berakibat buruk pada muslimah yang benar-benar ingin menjaga Iffah nya. Gara-gara wanita mereka, muslimah yang berharap Kaffah dalam islam terkena efek dari penyamarataan bahwa semua muslimah seperti itu.

Jilbab adalah contoh kesempurnaan agama Islam. Ada begitu banyak faedah mengapa wanita harus mengenakan jilbab. Sudah seharusnya bagi muslimah yang alhamdulillah sudah memutuskan menggunakan jilbab juga untuk segera menata hatinya agar menjadi seseorang wanita muslimah yang hatinya mencerminkan dengan jilbab yang telah ia kenakan. Semoga kita mampu menjadi wanita yang tidak hanya berpenampilan sholehah tetapi juga menjadi wanita yang berhati sholehah.

Wallahu’alam bi Shawwab.

Kamis, 20 Juni 2013

Tatsabbut dan Tsabaat

Bismillah.

AllahuAkbar, Allah Maha Besar, Allah adalah sumber dari segala ilmu yang ada di bumi ini dan hanya atas kehendaknya lah kita bisa menikmati manisnya ilmu dari Sang Pencipta. Segala puji juga saya berikan kepada baginda Muhammad S.A.W, penyempurna agama yang Alhamdulillah hingga saat ini masih saya pegang teguh.

Di sore yang dingin ini, saya masih duduk dengan anggun di meja kerja saya. Di saat teman-teman kantor sudah melakukan perjalanan pulang ke rumahnya masing-masing, saya masih berkuatat dengan pemikiran saya yang tidak henti-hentinya menuntut diri saya sendiri untuk melakukan banyak perbaikan dan perkembangan. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kegiatan mencari ilmu, baik ilmu dunia maupun dunia akhirat. Seakan-akan ilmu adalah kesenangan yang tidak ada habisnya. Walau demikian, saya tetap mengharapkan bahwa prioritas ilmu yang saya serap adalah ilmu syar'i atau ilmu agama.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang satu saja adab yang harus dipenuhi oleh siapa saja para pemburu ilmu. Sebuah adab yang selama ini saya jarang sekali perhatikan sehingga saya menyadari bahwa kegiatan belajar saya selama ini sangatlah jauh dari kata maksimal. Sering kita sadari atau tidak bahwa dalam menimba ilmu, kita dihinggapi oleh sikap mudah percaya terhadap ilmu yang kita dapat. Dengan mudahnya segala hal yang kita anggap bermanfaat langsung saja kita serap tanpa mempertanyakan kebenaranya terlebih dahulu. Ini merupakan hal yang perlu kita hindari karena tidak semua yang kita anggap benar bisa bermanfaat bagi kita. Sudah semestinya para pemburu ilmu harus menghadirkan sikap skeptis.

Yang kedua adalah seringkali, contohnya saya, tidak sabar dalam mempelajari sebuah ilmu / kitab. Baru saja dibaca 5-10 halaman, langsung berganti mempelajari ilmu / kitab lain dengan alasan sudah bosan atau tertarik dengan ilmu/kitab yang baru. Ini merupakan sebuah kesalahan yang dianggap sepele namun bisa mempengaruhi kesuksesan kita dalam mencari ilmu.

Untuk itu dari berbagai sumber yang saya dapatkan, ada dua solusi terhadap dua masalah yang telah saya paparkan diatas. Sesuai dengan judul entri ini, dua hal tersebut adalah Tatsabbut dan Tsabaat. Saya pada awalnya sangat asing dengan kedua istilah ini. Namun, setelah menemukan pemahaman keduanya, saya gembira karena ada faedah yang menjadi solusi dari permasalahan saya dalam proses mencari ilmu.

Pertama Tatsabbut, yang berarti meneliti kebenaran berita. Dalam keilmuan hadits, hal ini sangat penting untuk mencari kebenaran sebuah hadits ditinjau dari riwayatnya, sifatny dan keutamaanya. Saya rasa masih banyak hadits-hadits palsu yang saat ini dianggap shaih oleh sebagian orang. Hendaknya bagi para pemburu ilmu, sifat ini harus selalu ditanamkan dalam benak pikiranya. Karena untuk mencari kebenaran, diperlukan ikhtiar terbaik.

Kedua, Tsabat, yang bearti sabar. Sabar disini adalah kita harus mampu menahan diri kita untuk tetap fokus mempelajari sebuah kitab/ilmu hingga selesai. Untuk yang satu ini, saya termasuk yang paling tidak bisa melakuakanya, karena baru sedikit-sedikit sudah bosan mempelajari ilmu dan tidak sabaran ingin mempelajari semua ilmu. Tentu ini adalah sikap yang salah, karena ketika kita memiliki kesungguhan untuk menuntut sebuah ilmu, maka kita harus menyelesaikanya hingga tuntas. Untuk itu kita dituntut untuk menahan diri, bersabar terhadap setiap ilmu yang kita hadapi.

Mudah-mudahan Allah menghendaki kita sebagai insan yang cerdas dengan mematuhi adab-adab dalam menuntut ilmu, sehingga derajat kita dinaikan oleh Allah dan kita diizinkan dapat melihat WajahNya kelak di akhirat nanti. Amin ya Allah :)



Rabu, 19 Juni 2013

Tasabuh dalam Islam


At - tasabuh fil Islam berarti menyerupai orang kafir dalam Islam..tasabuh merupakan perkara yang haram, terutama dalam hal akhlak dan akidah, namun dalam hal muamalah dan pengetahuan, maka hal ini diperbolehkan. contoh tasabuh yang haram adalah berpacaran, merayakan maulud nabi, dsb..contoh tasabuh yang diperbolehkan adalah meniru semangat Bushido yang dimiliki orang Jepang.


Kita sebagai umat muslim harus percaya diri dengan keimanan dan keislamannya..harus memiliki al izzah al imaniyah; semangat keimanan..seperti firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 139:





Artinya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.


Hukum Tasabuh
  • Surat Al-Maidah ayat 51









Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

  • Surat Luqman ayat 21








Artinya : Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?


  • Surat Al Hadid : 16









Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

As we know, Indonesia is the largest moslem country in the world..namun, teramat disayangkan bahwa tasabuh sangat terlihat dan melekat pada umat Islam di negara ini..berikut beberapa contoh paling sederhananya: lebih hafal penanggalan masehi (januari, februari, …) dibandingkan  penanggalan hijriyah (muharram, safar, …), menamai anak dengan nama yang bukan berasal dari nama Islam,memberikan pendidikan kristen; memasukkan anak ke sekolah non Islam berpacaran, gaya pakaian ala kafir, yasinan, tahlilan, nisfu sya’ban, nuzul qur’an; agenda ini tidak dikenal dalam Islam namun selalu happening di mesjid-mesjid; menjadi semacam perayaan. Indonesia merupakan negara demokrasi, which is demokrasi tersebut tidak sesuai dengan Islam.

So, agar tidak terjerumus dalam tasabuh, kita harus terus belajar ilmu agama..sebagaimana yang difirmankan Allah pada QS. Al-Israa’ : 36








Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Yuk..belajar lebih banyak lagi..
Banyak belajar — belajar banyak :D

Minggu, 16 Juni 2013

Ciri - ciri amalan yang diterima Allah

Melakukan ibadah merupakan hal yang teramat mudah..kita dapat memperbanyak ibadah kita, namun kita (terkadang) tidak menyadari apakah amalan kita tadi telah diterima Allah ataukah hanya untuk melepaskan kewajiban..apalah arti ibadah yang banyak namun ga diterima di sisi Allah *JLEB

Ada empat indikator bahwa amalan yang kita tunaikan diterima oleh Allah, yaitu:
1. Allah jadikan amalannya lebih baik dari sebelumnya dan dirinya lebih baik dari sebelumnya

2. Akan semakin giat beribadah dan muncul rasa takut di dalam hatinya sehingga muncullah keinginan untuk meng-upgrade ibadahnya..
Ini dapat kita lihat di surat Al-Mu'minun ayat 60, yang berbunyi:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Maksudnya: karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

3. Ketika ia meminta sesuatu yang berhubungan dengan akhiratnya maka akan langsung dikabulkan oleh Allah; walaupun permintaan dunianya tidak dikabulkan Allah.

4. Allah jadikan ia tuk selalu istiqomah hingga akhir hayatnya, seperti firman Allah pada surat Fushshilat ayat 30:

إِنَّالَّذِينَقَالُوارَبُّنَااللَّهُثُمَّاسْتَقَامُواتَتَنَزَّلُعَلَيْهِمُالْمَلَائِكَةُأَلَّاتَخَافُواوَلَاتَحْزَنُواوَأَبْشِرُوابِالْجَنَّةِالَّتِيكُنتُمْتُوعَدُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".


Rabbana Taqabbal Minna..

Yaa Allah terimalah amalan yang kami kerjakan..aamin ya rabb..


NB: pengajian ini dirangkum dari pemaparan Ustad Umar Mitha pada pengajian pagi ummahat di Mesjid Ramadhan Bekasi pada hari Jum'at 24 Mei 2013.