Tampilkan postingan dengan label amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2013

Pertunangan : Belum apa-apa, sudah gimana-gimana

Seminggu belakangan ini marak pemberitaan tentang gagalnya pertunangan seorang artis terkenal dengan seorang (yang boleh dibilang) seorang pengusaha. tentu para pembaca sudah mengetahui kasus yang sudah menjadi buah bibir publik Indonesia ini. kali ini saya ingin membahas tentang hikmah yang dapat kita ambil dari kasus tersebut.

Pertunangan telah dikenal sebagai masa peralihan antara lamaran dan penikahan. Biasanya dalam pertunangan terdapat tradisi saling memberikan hadiah. Pertunangan berbeda dengan khitbah. Pertunangan tidak memiliki dasar hukum khusus seperti halnya lamaran atau akad pernikahan. Karena tak memiliki dasar khusus, maka tidak boleh seseorang menjadikan pertunangan ini sebagai ikatan. Karena ikatan itu hanya berlaku dengan akad pernikahan, dan itu hukum baku yang tak dapat diubah. mengganti syariat akad dengan pertunangan. Di level tersebut, maka pertunangan bisa menjadi bid’ah yang diharamkan. Kenapa bid’ah? Karena definisi bid’ah yaitu: Sebuah metode atau cara dalam urusan agama yang sengaja dibuat-buat, menyerupai bentuk syariat (ibadah) yang sudah ada, dengan tujuan pelaksanaan menambah ibadah, atau memiliki tujuan seperti tujuan syariat. Sementara perbuatan bid’ah itu haram dalam Islam:


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya : 
Barangsiapa yang membuat (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kita ini, yang bukan darinya (Al-Qur’an dan Hadits) maka dia adalah tertolak.
(HR.Bukhari dan Muslim).
 
Pada kebiasaan pertunangan yang ada di masa modern ini –beda dengan perjodohan di masa lampau– banyak orang beranggapan bahwa pertunangan itu sudah menjadi “semi pernikahan”, di mana karena sudah bertunangan maka kedua calon pasangan itu boleh bepergian berdua ke mana-mana tanpa disertai oleh mahram-nya, berduaan, berpacaran, saling berpegangan, menjalin keakraban sedemikian rupa, dan lain sebagainya. Hal itu jelas berlawanan dengan aturan dalam Islam. 

Ada beberapa hal penting yang perlu dicamkan oleh para muslimah terhadap perkara perunangan: 
  • karena pertunangan telah dianggap sebagai semi-pernikahan oleh publik, maka aktifitas yang berhubungan dengan melibatkan kegiatan berpasangan pun dianggap sah-sah saja seperti berpegangan dan bentuk-bentuk keakraban lainnya. tentu hal ini merugikan para wanita. hayo, apa kamu rela dipegang-pegang oleh lelaki yang jelas-jelas belum menikahi kamu? ingatlah wahai ukhtifillah, azab Allah itu teramat pedih.
  • Muslimah itu mahal. bukan karena ia cantik wajahnya, melainkan karena akhlaknya. jangan pernah berikan kesempatan pada lelaki untuk "memurahkan" kamu. Kita muslimah tidak akan pernah tahu siapa lelaki terbaik yang kelak telah Allah pilihkan untuk kita.
Intinya adalah pada tulisan kali ini saya berpesan kepada para pembaca bahwa, pikirkanlah yang terbaik untuk dirimu dan akhiratmu :)

Wassalam

Selasa, 02 Juli 2013

Menjual Diri

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Sangat manusiawi sekali bahwa manusia selalu mengalami pasang surut perasaan dan keimanan. Orang yang memiliki persoalan kejiwaan seperti itu biasanya hidupnya resah dan gelisah, tidak mampu memaknai kehidupan, apalagi menjaga kehidupan. Baik kehidupan orang lain maupun kehidupan dirinya. Akibatnya, dia bisa dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain atau mengakhiri hidupnya sendiri (bunuh diri). Himpitan ekonomi termasuk salah satu faktir dari penyebab terjadinya bunuh diri. Namun, sebenarnya tidak demikian. Justru faktor bunuh diri terbanyak bukan dimiliki oleh negara-negara miskin.

Berikut data yang penulis dapatkan dari terrific-top10.com tentang 10 negara terbanyak yang melakukan bunuh diri :
10. Slovenia 
9. China
8. Latvia
7. Japan
6. Hungaria
5. Belarusia
4. Kazakhstan
3. Guyana
2. Korea Selatan  
1. Lithuania 

Dari data yang penulis dapatkan, terlihat bahwa bunuh diri tidak melulu menjadi "problem-solver" bagi rakyat miskin. Bunuh diri juga dilakukan oleh presiden, penyanyi, militer, orang-orang yang tidak puas dengan negaranya, orang-orang yang bekerja terlalu keras dalam pekerjaannya dan sebagainya.  Korea Selatan, raksasa ekonomi saat ini tentu tingkat kesejahteraan materi masyarakatnya amat baik. Namun, ternyata untuk menggapai kebahagiaan, jiwa manusia tidak terbeli oleh apa pun dan tidak bisa dijual kepada siapa pun. Jiwa kita hanya terbeli dengan harga yang amat tinggi manakala dijual kepada Allah. Hanya Allah yang dapat membayar mahal jiwa kita dan sekaligus memuliakan serta membahagiakannya. Dengan demikian, kita akan merasakan makna kehidupan dan kehidupan bermakna.

وعَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَرِيِّ ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ ، وَالْحَمْدُ ِللهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ ، أَوْ تَمْلأُ ، مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ ، وَالصَّلاَةُ نُورٌ ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو ، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا ، أَوْ مُوبِقُهَا.


Artinya:
Dari Abu Malik Al-Asy'ari r.a. dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Bersuci itu separuh keimanan, (ucapan) Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan, (ucapan) Subhanallah (Mahasuci Allah) dan Alhamdulillah memenuhi antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah pembuktian, sabar adalah sinar, Al-Quran adalah argumen yang mendukung atau melawanmu. Setiap manusia pergi (bergerak) lalu menjual dirinya. Ada yang memerdekakannya atau membinasakannya." 
[H.R. Muslim]


Rasulullah Saw. menyatakan dalam hadits yang disebutkan tadi bahwa setiap manusia pasti menjual dirinya. Ada yang memerdekannya atau membinasakannya. Setiap manusia tanpa kecuali pasti akan bergerak, bertransaksi, dan menjual diri. Apakah kemudian dia bahagia atau sengsara, bergantung kepada siapa dirinya dijual. Jika dijual kepada Allah, beruntunglah bisnisnya. Sebaliknya, jika dijual kepada selain Allah, rugilah dia dan hancurlah kehidupannya. Selain Allah itu bisa manusia, harta, jabatan, popularitas, atau tujuan duniawi lainnya.
Wallahualam bishshawab...



Kamis, 27 Juni 2013

Visi Ibu Hebat : Mendidik Anak di Bulan Ramadhan


When you educate a woman, you educate a generation.
(ketika kamu mendidik seorang wanita, kamu telah mendidik sebuah generasi)

Al-ummu madrasatul ulaa.

(ibu adalah sekolah pertama (bagi anak-anaknya))

Seorang ibu merupakan orang yang terdekat dengan anak-anaknya. Pendidikan, pola pikir, wawasan serta tentu keimanan seorang ibu berpengaruh besar terhadap perkembangan pola pikir dan tumbuh kembang anaknya kelak.Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya seperti mengajarkan anak tentang kebersihan dan ketauhidan sejak dini. Mendidik anak merupakan perkara yang luas karena anak merupakan generasi penerus yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Mendidik anak merupakan kewajiban bagi setiap orang tua, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an:

يايُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya : 
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[QS. At-Tahrim : 6] 

Ada banyak motivasi syariat agar orang tua memiliki anak yang sholeh, seperti yang disebutkan dalam Hadist Rasulullah SAW:


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya :
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang sholeh.
[HR. Muslim no. 1631]

Anak sholeh akan senantiasa mendoakan orang tuanya bahkan ketika orang tuanya telah meninggal. Anak sholeh merupakan hasil usaha didikan dari ayah dan ibunya sehingga seluruh amal sholeh yang dilakukan oleh sang anak akan mengalir pada ayah ibunya..subhanallah..

Tidak terasa beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan momentum tepat untuk melatih dan mengajarkan anak-anak beribadah, seperti sholat dan puasa. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya:
Perintahkanlah anak-anak kalian utk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, & apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tak melaksanakannya, & pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.
[HR. Abu Daud no. 495]

Dalam khazanah fiqih Islam kita dapatkan bahwa mayoritas ulama memandang pentingnya pemberlakuan puasa bagi anak yang belum baligh meski tidak berstatus wajib, bahkan sebagian mereka seperti Ibnu Sirin, az-Zuhri, as-Syafii memandang sunnah dalam pembelajaran tersebut dengan catatan hal tersebut mampu dilakukannya secara normal, bahkan Ibnu Majisyun al-Maliki memandang agak berbeda dari para ulama maliki yang lain bahwa anak yang telah mampu berpuasa maka puasa baginya adalah keharusan dan jika meninggalkannya tanpa udzur maka harus membayarnya ( qadha). (lihat Fathul Bari; Ibnu Hajar al-Asqalani: 5/103). Sampaikanlah kebanggaan kita dan berilah hadiah ketika anak mampu melaksanakan puasa. Ajarilah anak tentang bersabar dalam berpuasa, akan mendapatkan pahala besar dan katakan bahwa ada pintu surga Ar-Rayyan yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berpuasa. 

Prioritaskanlah momentum Ramadhan ini sebagai waktu yang tepat untuk semakin menumbuhkan kecintaan anak terhadap ibadah sholat, puasa dan baca Al-Qur'an. Penuhi hati anak dengan nilai-nilai ketauhidan dan Al-Quran sehingga tidak ada lagi ruang di hati mereka untuk kemaksiatan. 

Sumber: 

Pedoman Orang Tua Tentang Puasa Bagi Anak-Anak http://www.dakwatuna.com/2010/08/18/7099/pedoman-orang-tua-tentang-puasa-bagi-anak-anak/#ixzz2XNiNNwsB 
Mendidik Anak Di Bulan Ramadhan 
http://www.youtube.com/watch?v=amOgLep4hOs

Jumat, 21 Juni 2013

Jilbab bukan sekedar trend




Bismillahirahmanirahim..

Udah enggak aneh kita jumpai muslimah yang berjilbab di negara muslim terbesar di dunia ini. Beragam macam dan jenis jilbab dikenakan oleh mereka, dari yang hanya berjilbab ala kadarnya dengan poni masih terlihat dan tanpa menutupi dada sampai jilbab syari yang menutup penuh aurat mereka. Semua dilakukan oleh muslimah sebagai wujud taqwa atas perintah Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sayangnya jilbab sudah menuai perubahan makna, yang tadinya jilbab adalah pakaian longgar yang menutup seluruh aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki kecuali yang biasa tampak, menjadi hanya sebuah krudung ketat yang menempel erat di leher.

Jilbab juga yang tadinya simbol keimanan dan ketakwaan menjadi sebuah trend fashion yang dapat berubah sewaktu-waktu. Kebiasaan masyarakat yang termakan jaman menjadikan mereka gandrung trend fashion yang lagi “hits” saat ini, tak peduli lagi dengan fungsi jilbab itu sendiri. Tidak usah heran apabila kita temukan di sebuah artikel majalah fashion remaja wanita yang mengulas bagaimana jilbab juga bisa tetap mengikuti trend fashion saat ini dengan aksesoris juga jenis baju/celana yang jauh dari busana muslimah (jilbab) ideal yang sesungguhnya.

Walaupun sering dipaksakan namun pada kenyataanya para wanita muslimah di masyarakat kita banyak yang mengikuti trend tersebut. Entah karena takut ketinggalan jaman atau sekedar hanya ikut-ikutan karena kurangnya pemahaman yang menyeluruh akan artinya jilbab di dalam agama kita.

Arti memakai jilbab bagi beberapa muslimah juga dapat berarti sebuah usaha untuk mencapai sebuah kesalehan instan. Bagi wanita yang mampu memakai jilbab berarti dia sudah layak digelari sebagai seorang muslimah yang sholehah. Kita sudah terlalu sering menyaksikan secara gamblang para wanita yang mengaku berjilbab padahal dia hanya berkerudung dengan memakai pakaian ketat yang masih berkhalwat dengan bukan muhrimnya di tempat-tempat hiburan seperti mall, café dan sebagainya. Mereka sama sekali tidak menghiraukan bahwa kesalahpahaman makna jilbab pada masyarakat bisa berakibat buruk pada muslimah yang benar-benar ingin menjaga Iffah nya. Gara-gara wanita mereka, muslimah yang berharap Kaffah dalam islam terkena efek dari penyamarataan bahwa semua muslimah seperti itu.

Jilbab adalah contoh kesempurnaan agama Islam. Ada begitu banyak faedah mengapa wanita harus mengenakan jilbab. Sudah seharusnya bagi muslimah yang alhamdulillah sudah memutuskan menggunakan jilbab juga untuk segera menata hatinya agar menjadi seseorang wanita muslimah yang hatinya mencerminkan dengan jilbab yang telah ia kenakan. Semoga kita mampu menjadi wanita yang tidak hanya berpenampilan sholehah tetapi juga menjadi wanita yang berhati sholehah.

Wallahu’alam bi Shawwab.

Kamis, 20 Juni 2013

Tatsabbut dan Tsabaat

Bismillah.

AllahuAkbar, Allah Maha Besar, Allah adalah sumber dari segala ilmu yang ada di bumi ini dan hanya atas kehendaknya lah kita bisa menikmati manisnya ilmu dari Sang Pencipta. Segala puji juga saya berikan kepada baginda Muhammad S.A.W, penyempurna agama yang Alhamdulillah hingga saat ini masih saya pegang teguh.

Di sore yang dingin ini, saya masih duduk dengan anggun di meja kerja saya. Di saat teman-teman kantor sudah melakukan perjalanan pulang ke rumahnya masing-masing, saya masih berkuatat dengan pemikiran saya yang tidak henti-hentinya menuntut diri saya sendiri untuk melakukan banyak perbaikan dan perkembangan. Saya benar-benar jatuh cinta dengan kegiatan mencari ilmu, baik ilmu dunia maupun dunia akhirat. Seakan-akan ilmu adalah kesenangan yang tidak ada habisnya. Walau demikian, saya tetap mengharapkan bahwa prioritas ilmu yang saya serap adalah ilmu syar'i atau ilmu agama.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang satu saja adab yang harus dipenuhi oleh siapa saja para pemburu ilmu. Sebuah adab yang selama ini saya jarang sekali perhatikan sehingga saya menyadari bahwa kegiatan belajar saya selama ini sangatlah jauh dari kata maksimal. Sering kita sadari atau tidak bahwa dalam menimba ilmu, kita dihinggapi oleh sikap mudah percaya terhadap ilmu yang kita dapat. Dengan mudahnya segala hal yang kita anggap bermanfaat langsung saja kita serap tanpa mempertanyakan kebenaranya terlebih dahulu. Ini merupakan hal yang perlu kita hindari karena tidak semua yang kita anggap benar bisa bermanfaat bagi kita. Sudah semestinya para pemburu ilmu harus menghadirkan sikap skeptis.

Yang kedua adalah seringkali, contohnya saya, tidak sabar dalam mempelajari sebuah ilmu / kitab. Baru saja dibaca 5-10 halaman, langsung berganti mempelajari ilmu / kitab lain dengan alasan sudah bosan atau tertarik dengan ilmu/kitab yang baru. Ini merupakan sebuah kesalahan yang dianggap sepele namun bisa mempengaruhi kesuksesan kita dalam mencari ilmu.

Untuk itu dari berbagai sumber yang saya dapatkan, ada dua solusi terhadap dua masalah yang telah saya paparkan diatas. Sesuai dengan judul entri ini, dua hal tersebut adalah Tatsabbut dan Tsabaat. Saya pada awalnya sangat asing dengan kedua istilah ini. Namun, setelah menemukan pemahaman keduanya, saya gembira karena ada faedah yang menjadi solusi dari permasalahan saya dalam proses mencari ilmu.

Pertama Tatsabbut, yang berarti meneliti kebenaran berita. Dalam keilmuan hadits, hal ini sangat penting untuk mencari kebenaran sebuah hadits ditinjau dari riwayatnya, sifatny dan keutamaanya. Saya rasa masih banyak hadits-hadits palsu yang saat ini dianggap shaih oleh sebagian orang. Hendaknya bagi para pemburu ilmu, sifat ini harus selalu ditanamkan dalam benak pikiranya. Karena untuk mencari kebenaran, diperlukan ikhtiar terbaik.

Kedua, Tsabat, yang bearti sabar. Sabar disini adalah kita harus mampu menahan diri kita untuk tetap fokus mempelajari sebuah kitab/ilmu hingga selesai. Untuk yang satu ini, saya termasuk yang paling tidak bisa melakuakanya, karena baru sedikit-sedikit sudah bosan mempelajari ilmu dan tidak sabaran ingin mempelajari semua ilmu. Tentu ini adalah sikap yang salah, karena ketika kita memiliki kesungguhan untuk menuntut sebuah ilmu, maka kita harus menyelesaikanya hingga tuntas. Untuk itu kita dituntut untuk menahan diri, bersabar terhadap setiap ilmu yang kita hadapi.

Mudah-mudahan Allah menghendaki kita sebagai insan yang cerdas dengan mematuhi adab-adab dalam menuntut ilmu, sehingga derajat kita dinaikan oleh Allah dan kita diizinkan dapat melihat WajahNya kelak di akhirat nanti. Amin ya Allah :)



Minggu, 16 Juni 2013

Ciri - ciri amalan yang diterima Allah

Melakukan ibadah merupakan hal yang teramat mudah..kita dapat memperbanyak ibadah kita, namun kita (terkadang) tidak menyadari apakah amalan kita tadi telah diterima Allah ataukah hanya untuk melepaskan kewajiban..apalah arti ibadah yang banyak namun ga diterima di sisi Allah *JLEB

Ada empat indikator bahwa amalan yang kita tunaikan diterima oleh Allah, yaitu:
1. Allah jadikan amalannya lebih baik dari sebelumnya dan dirinya lebih baik dari sebelumnya

2. Akan semakin giat beribadah dan muncul rasa takut di dalam hatinya sehingga muncullah keinginan untuk meng-upgrade ibadahnya..
Ini dapat kita lihat di surat Al-Mu'minun ayat 60, yang berbunyi:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Maksudnya: karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

3. Ketika ia meminta sesuatu yang berhubungan dengan akhiratnya maka akan langsung dikabulkan oleh Allah; walaupun permintaan dunianya tidak dikabulkan Allah.

4. Allah jadikan ia tuk selalu istiqomah hingga akhir hayatnya, seperti firman Allah pada surat Fushshilat ayat 30:

إِنَّالَّذِينَقَالُوارَبُّنَااللَّهُثُمَّاسْتَقَامُواتَتَنَزَّلُعَلَيْهِمُالْمَلَائِكَةُأَلَّاتَخَافُواوَلَاتَحْزَنُواوَأَبْشِرُوابِالْجَنَّةِالَّتِيكُنتُمْتُوعَدُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".


Rabbana Taqabbal Minna..

Yaa Allah terimalah amalan yang kami kerjakan..aamin ya rabb..


NB: pengajian ini dirangkum dari pemaparan Ustad Umar Mitha pada pengajian pagi ummahat di Mesjid Ramadhan Bekasi pada hari Jum'at 24 Mei 2013.