Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2013

Kehidupan : Berserah atau Menyerah?



Hidup itu tidak akan sepenuhnya selalu bahagia dan tidak akan selalu sedih juga. Selalu ada keseimbangan yang Allah berikan kepada setiap makhluk-Nya karena Allah mempunyai sifat Maha Adil. Kita sering melihat ada orang yang memiliki harta berlimpah, keluarga yang bahagia dan kerabat yang banyak, namun Allah memberinya penyakit yang membuatnya tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian di sisi lain, ada orang yang mungkin bias dikatakan hartanya tidak banyak, keluarga yang biasa-biasa saja, namun memiliki fisik yang kuat. Setiap makhluk pasti diberikan ujian oleh Allah. Tentu saja ini dengan sebuah tujuan agar makhluk tersebut selalu mendekatkan diri kepada Allah, selalu mengingat bahwa bagaimanapun ia hanyalah seorang hamba yang harus selalu bersandar pada Rabb-nya, yang percaya bahwa memang benar Allah akan selalu ada untuk makhluk yang memang sungguh beriman pada-Nya.

Sering kita berpikir bahwa kita adalah orang yang sangat tidak beruntung di dunia ini. Apalagi saat menginjak usia remaja, masa-masa pencarian jati diri. Semua terasa membebani dan berat. Seiringnya tumbuhnya kita, kita akan melalui banyak ujian. Lewat dari satu ujian, maka akan datang ujian lainnya. Hidup memang tidak akan pernah luput dari ujian. Namun, saya yakin dan percaya bahwa ini semua tergantung bagaimana kita menyikapinya sebagai makhluk ciptaan Allah.

Ada satu firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 yang artinya “Allah tidak akan menguji seseorang diluar batas kemampuannya”. Ayat ini menjadi penguat bagi saya bahwa apapun yang dialami oleh seorang hamba, seberat apapun ujian yang ditimpakan kepadanya, pasti ia sanggup melampaui ujian tersebut. Karena jelas bahwa Allah telah berjanji dalam Al-Quran bahwa setiap ujian yang diberikan kepada makhluk pastilah sesuai kemampuan makhluk-Nya.

Nah, letak permasalahannya adalah manusia memiliki sifat terburu-buru. Ingin semuanya cepat selesai dan yah tentu mengembalikan keadaan yang membuat hatinya merasa nyaman dan tidak terusik. Allah menguji kita tentu saja ada tujuannya dan kita sebagai makhluk juga harus selalu mengevaluasi diri. Apa yang membuat kita mengalami ujian tersebut? Apakah ini adalah punishment atas perbuatan di masa lalu? Apakah hati kita sudah bersih dari penyakit hati? Terus dan teruslah evaluasi diri agar nanti sampai pada kesimpulan dan keyakinan bahwa Allah pasti menguji kita sesuai dengan kemampuan kita, yakin bahwa Allah akan terus bersama kita karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang dan yakinlah bahwa kondisi apapun yang Allah berikan pada kita merupakan kondisi terbaik untuk kita. Allah memberikannya agar kita benar-benar menjadi hamba-Nya yang beriman, yang berserah diri dan ikhlas.



Kamis, 19 September 2013

Hadist tentang Manajemen Sedekah


Manajemen Sedekah..mungkin beberapa pembaca ada yang bertanya-tanya tentang, ada apa dengan sedekah?kenapa sedekah harus di-manage?tenang..anda tidak sendirian..saya pun juga bertanya-tanya dalam hati saya tentang makna apa yang terkandung dalam manajemen sedekah..

Marilah kita bersama-sama membuka kitab Bulughul Maram pada Bab Shadaqah Tathauwu'..sedekah yang sunat, bukan wajib

1. Hadist No.650
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اَللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ.... ) فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ وَفِيهِ: ( وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya:


Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tujuh macam orang yang akan dilindungi Allah pada hari yang tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya - kemudian ia menyebutkan hadits dan didalamnya disebutkan - orang yang bersedekah dengan sedekah yang ia tutupi sehingga tangannya yang kiri tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya."
[Muttafaq Alaihi]

2. Hadist No.653

وَعَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلْيَدُ اَلْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اَلْيَدِ اَلسُّفْلَى, وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ, وَخَيْرُ اَلصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى, وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اَللَّهُ, وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اَللَّهُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Artinya: 


Dari Hakim Ibnu Hazm Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orang-orang yang banyak tanggungannya; dan sebaik-baik sedekah ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya."
[Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.]

3. Hadist No.655
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( " تَصَدَّقُوا " فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, عِنْدِي دِينَارٌ? قَالَ: " تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ " قَالَ: عِنْدِي آخَرُ, قَالَ: " تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ " قَالَ: عِنْدِي آخَرُ, قَالَ: " تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ " قَالَ: عِنْدِي آخَرُ, قَالَ: " أَنْتَ أَبْصَرُ ". ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Artinya:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bersedekahlah." Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: "Bersedekahlah pada dirimu sendiri." Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: "Sedekahkan untuk anakmu." Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: "Sedekahkan untuk istrimu." Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: "Sedekahkan untuk pembantumu." Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: "Kamu lebih mengetahui penggunaannya."
[Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim]

to be continued...




Jumat, 12 Juli 2013

Semangat Kaum Salaf dalam Mendidik Anak, Bisakah Kita Meniru Mereka?

Berikut adalah contoh yang memperlihatkan semangat para orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Gambaran dalam kehidupan salafush shalih yang melukiskan semangat mereka terhadap pendidikan anak yang dilatari dan dilandasi dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallama. Meski jauhnya tempat mereka dan tahu tentang kesulitan di dalam melakukan safar, bahaya yang ada di jalan dan jauhnya jarak perjalanan, namun mereka lebih memilih untuk berpisah dengan buah hati mereka dalam rangka menuntut ilmu, bahkan mereka tak segan kehilangan harta untuk perjalanan anak-anak mereka menuntut ilmu agar kelak memberikan manfaat untuk diri mereka sendiri lalu untuk Islam dan kaum Muslimin.


Adalah ‘Ali bin ‘Ashim Al-Wasithi berkata: “Bapakku memberikan 100 dirham kepadaku dan berkata, ‘Pergilah dan tempuhlah perjalananmu untuk mencari ilmu. Aku tidak mau melihat wajahmu kecuali bersamamu ada 100.000 hadits’. "Berangkatlah ia pergi mencari ilmu. Kemudian dia kembali untuk menyebarkannya, sampai datang ke majelisnya lebih dari 30.000 orang. Al-Mu’tamir bin Sulaiman berkata". Bapakku menulis surat kepadaku, ketika aku berada di Kuffah, "Belilah lembaran-lembaran dan tulislah ilmu, karena harta itu akan lenyap dan ilmu akan abadi’.”

Berikut pesan Ibnu Al-Wardi kepada puteranya di dalam Laamiyah beliau yang terkenal, yang juga merupakan pesan bagi setiap anak setiap penuntut ilmu, meski hari dan tahun silih berganti.

Wahai anakku! Dengarkanlah beberapa wasiat yang menghimpun banyak hikmah, yang dikhususkan dengannya sebaik-baik agama Carilah ilmu dan janganlah malas, betapa jauhnya kebaikan bagi orang yang malas Berkumpullah untuk memahami agama, dan janganlah kamu disibukkan dengan harta dan kekayaan Tinggalkanlah tidur dan dapatkanlah ilmu, maka barangsiapa tahu apa yang dicari, akan meremehkan apa yang dia keluarkan Jangan kamu katakana bahwa para pemilik ilmu telah hilang pasti akan sampai setiap yang melangkah di atas jalan.

Dahulu para ahli hikmah berkata, "Barangsiapa menjadikan dirinya begadang di waktu malam, berarti telah mejadikan hatinya bahagia di waktu siang."

Para pendahulu kita amat bersemangat agar anak-anak mereka memiliki pendidik semenjak kecil dan benar-benar berpesan pada si anak agar bersemangat belajar. Mereka pun betul-betul perhatian dengan memberikan sarana yang akan digunakan anak mereka untuk menuntut ilmu. Seperti ‘Utbah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berpesan kepada pendidik putranya: “Ajarilah dia Kitabullah, puaskan dia dengan hadits dan jauhkan dia dari syi’ir.”

Inilah beberapa gambaran cemerlang tentang semangat orang tua dalam mendidik anak-anak mereka, mengawasi dan menganjurkan mereka untuk mencari ilmu. Karena sesungguhnya tidak akan berpaling dari menuntut ilmu dan meremehkannya kecuali orang bodoh yang tidak mengetahui kebaikan agama dan dunianya. Sebagaimana perkataan Al-Imam Ahmad, “Tidak akan patah semangat untuk mencari ilmu kecuali orang yang bodoh.”

Ibnu Al-Jauzi berkata memberikan pesan kepada anaknya dan menganjurkannya untuk sibuk mencari ilmu, “Ketahuilah bahwa ilmu akan mengangkat orang-orang yang rendah kedudukannya. Sungguh banyak dari kalangan ulama yang tidak mempunyai nasab yang terkenal maupun rupa yang tampan. “

Bahkan ‘Atha` bin Abi Rabah adalah seorang yang berkulit hitam dan berwajah jelek, namun didatangi oleh Khalifah Sulaiman bin ‘Abdil Malik bersama dua orang putranya. Mereka duduk di hadapan ‘Atha` untuk bertanya masalah manasik haji. ‘Atha` pun menjelaskan pada mereka bertiga sambil memalingkan wajahnya dari mereka. Sang Khalifah berkata kepada kedua putranya, “Bangkitlah, dan jangan lalai dan malas untuk mencari ilmu. Aku tidak akan pernah melupakan kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.”

Al-Hasan adalah seorang bekas budak, juga Ibnu Sirrin Makhul dan banyak lagi lainnya. Mereka dimuliakan tidak lain karena ilmu dan ketakwaan.

Ahmad bin An-nadhar Al-Hilali berkata, “Aku mendengar bapakku berkata, ‘Dahulu aku berada di majelis Sufyan bin ‘Uyainah, lalu beliau melihat anak kecil yang masuk ke adalam masjid. Orang-orang yang berada di dalam majelis meremehkannya karena masih kecil umurnya, maka Sufyan berkata, “Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atasmu.” (An-Nisa’: 94) Kemudian berkata, “Wahai Nadhar! Seandainya kamu melihat aku dahulu ketika berusia sepuluh tahun. Tinggiku lima jengkal. Wajahku seperti uang dinar. Aku seperti kayu bakar. Bajuku kecil dan lengan bajuku pendek. Bekas langkahku banyak dan sandalku seperti telinga tikus. Aku bolak-balik pergi ke tempat para ulama di berbagai penjuru seperti Az-Zuhri dan ‘Amr bin Dinar. Aku duduk di antara mereka seperti paku. Tempat tintaku seperti anggur kuning, tempat penaku seperti pisang dan penaku seperti buah badam. Jika aku masuk ke majelis, mereka berkata ‘Lapangkanlah tempat duduk untuk syaikh kecil.’ Bapakku berkata, ‘Kemudian Ibnu ‘Uyainah tersenyum dan tertawa.’ Ahmad berkata, ‘bapakku pun tersenyum dan tertawa’.”

Alasan Sufyan Ats-Tsauri lebih awal untuk menuntut ilmu dan sibuk dengannya adalah karena dorongan semangat dari ibunya, dan anjuran terhadapnya untuk menuntut ilmu serta arahan darinya agar mengambil faedah dari apa yang telah diketahui dan dari bermajelis dengan para ulama. Ilmunya juga harus memberikan pengaruh pada akhlak dan tingkah laku serta pergaulannya bersama manusia. Jika tidak maka apa manfaat ilmu?

Sang ibu berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, mendorongnya untuk pergi ke halaqah-halaqah ilmu dan duduk bersama para syaikh, “Wahai anakku! Ambillah, ini sepuluh dirham. Pelajari sepuluh hadits. Jika kamu dapatkan bisa mengubah cara duduk, berjalan, dan bicaramu bersama manusia, maka datanglah kepadanya dan aku akan membantumu dengan hasil tenunanku ini. Jika tidak maka tinggalkanlah. Karena aku takut dengan ilmu itu akan menjadi malapetaka bagimu di hari kiamat.”

Sang ibu bekerja keras demi menafkahi anaknya, sehingga sang anak benar-benar mencurahkan waktunya untuk menimba ilmu. Sementara ibunya senantiasa memberikan pesan dan nasihat di sela-sela kesibukan anaknya menimba ilmu. Suatu kali ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al-imam Ahmad: “Wahai anakku, jika kamu menulis 10 huruf, maka lihatlah! Engkau amati, bertambahkah rasa takutmu (kepada Allah Azza wa Jalla), sikap santun, dan kedewasaanmu (kewibaanmu)? Jika tidak, maka hal itu akan memberi mudharat dan tidak membawa manfaat bagimu.”

Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya ketika sedang mendidiknya, “Wahai anakku! Jika kamu duduk bersama para ulama, jadilah kamu lebih semangat untuk diam daripada untuk berbicara belajarlah cara mendengar yang baik. Janganlah kamu memotong pembicaraan seseorang meski panjang, sampai dia sendiri yang berhenti.”

Al-Imam Malik bercerita: “Aku berkata pada ibuku, ‘Bolehkah aku pergi untuk menulis ilmu?’ Ibuku menjawab, ‘Kemarilah, pakailah baju ilmu’. Beliau memakaikan untukku baju berkancing, meletakan songkok di atas kepalaku dan memakaikan sorban untukku di atasnya, kemudian berkata, ‘Berangkat dan tulislah sekarang. Pergilah ke Rabi’ah, pelajari adabnya sebelum ilmunya’.” =======================================================

Tuturan di atas adalah sedikit dari contoh dan gambaran yang cemerlang dari perjalanan hidup kaum salaf yakni dara kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhuma dan para generasi setelah mereka dari kalangan ahli ilmu rahimahumullahu Ta’ala dalam hal pendidikan anak. Contoh-contoh tersebut semestinya membangkitkan decak kagum dalam lubuk jiwa kita.

Ketika kita prihatin bahwa sebagian anak-anak kita pada usia belasan tidak bisa berwudhu’ dengan benar, tidak mengerti kewajiban shalat berjama’ah, tidak pula hafal satu hadits dari hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alayhi wasallama. Menyayat hati dan menjadikan mata berlinang adalah ketika melihat pemuda-pemuda umat pada usia seperti itu, mereka tidak mencari ilmu dan tidak baik akhlaknya. Mereka terbawa oleh berbagai permainan yang melalaikan.

Media-media berupa tontonan dan gambar-gambar yang merusak. Dan akhirnya kita menemukan mereka ketika telah dewasa dan dalam keadaan minder terhadap agama mereka sendiri. Wallahul Musta’an. Ketika kita prihatin memperhatikan keadaan anak-anak muda zaman sekarang berupa kebandelan dan kenakalan dan juga melihat kelalaian serta bodohnya pihak orang tua, lalu bandingkan dengan keadaan kaum salafush shalih.

Namun janganlah berputus asa. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mampu memperbaiki keadaan kaum salaf, Maha Mampu untuk memperbaiki keadaan orang-orang yang datang kemudian. Umat ini bagaikan siraman hujan, kebaikan terdapat pada awalnya, tengah-tengahnya dan penghujungnya. Oleh karena itu –setelah taufiq dari Allah- ada ditangan kita. Hal itu dapat digapai jika kita melakukan berbagai upaya. Kita berupaya untuk mencari terapi penyembuhannya, membenahi kesalahan dan meluruskan kebengkokan. Wahai para ayah dan ibu, singsikan lengan kesungguhan dan usahakan sekuat tenaga untuk mendidik anak-anak, serta curahkanlah segenap kemampuan dan daya upaya untuk melakukannya.

Maka bisakah kita meniru mereka?

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”(Al-Mujadilah: 21) Dari Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhumua, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallama bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dipinta pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya..” 

Dikutip dari Terjemah Warotsah Al-Anbiya “Pewaris Para Nabi” oleh ‘Abdul Malik bin Muhammad Al-Qosim, Penerbit: Cahaya Ilmu Press & Terjemah At-taqshiir fii Tarbiyati Al-Aulaad “38 Kesalahan Mendidik Anak” oleh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Penerbit: Pustaka Ar-Rayyan serta tambahan lainnya dari berbagai sumber

Rabu, 10 Juli 2013

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?


Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.
Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih
Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?
Wallahu a’lam
Maroji’:

1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

Minggu, 30 Juni 2013

Mempersiapkan Diri Menuju Pernikahan

Banyak yang beranggapan bahwa membekali diri dengan mempelajari buku-buku tentang pernikahan dan mengikuti berbagai pengajian adalah langkah yang cukup untuk mempersiapkan diri menjelang pernikahan. Tidak demikian juga sebenarnya. Sebanyak apapun ilmu tentang pernikahan yang kita serap, sebagus apapun buku yang kita baca dan sepandai apapun konsultan pra-nikah telah membimbing kita, semua pada dasarnya akan kembali lagi kepada kita secara personal. 


Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِي
Artinya:
Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.
[Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 625)]


Menurut saya, pernikahan merupakan tacit knowledge. Pengetahuan yang sulit dikomunikasikan karena tolak ukur kemampuannya berdasarkan pada kebiasaan yang ada pada tiap individu yang melaksanakan lembaga pernikahan. Namun, tacit knowledge ini bisa menjadi explicit knowledge melalui pengalaman-pengalaman yang telah dialami individu tersebut. Beberapa orang ada yang merasa takut untuk menikah karena merasa tidak siap. Khawatir bahwa kehidupan setelah pernikahan tidak akan sebahagia sebelumnya. Khawatir bahwa tidak akan sanggup menyelaraskan diri dengan pasangan, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Boleh saya katakan, ini merupakan hal klasik. Anda tidak sendirian dan semua orang tentu mengalaminya, nah disinilah letak perbedaan antara tiap individu, yakni dalam cara menyikapinya.

Tidak gampang memang, dan janganlah dipersulit. Tetaplah berpikiran positif bahwa anda dan pasangan anda telah ditakdirkan Allah untuk berdua, menjadi sepasang suami istri yang akan selalu bersama berjuang demi kebahagiaan bersama. Saling melengkapi, mengingatkan dan membahagiakan tidak hanya dalam urusan kehidupan duniawi. Ada tujuan yang lebih kekal, yakni berbahagia bersama dan dipertemukan Allah kembali di Jannah-Nya...aamin ya rabbal 'alamin...

Ada beberapa hal yang harus menjadi concern utama bagi yang belum menikah atau yang sedang mempersiapkan pernikahan:
- selain menambah ilmu dengan banyak membaca dan mendengarkan kajian ceramah, rajin-rajin juga sharing dengan ibu, tante atau dengan teman-teman yang telah lebih dahulu menikah. Ambil dan seraplah hal-hal positif. Lika liku dalam berumah tangga nanti pasti akan selalu ada. Disinilah kearifan dan kedewasaan kita diminta dalam menyikapi segala hal yang akan muncul.
- Jadikanlah akhirat sebagai fokus utama kita dalam mendirikan sebuah mahligai rumah tangga. Jadikanlah pernikahan sebagai ladang amal untuk menggapai ridho Allah subhanahu wa ta'ala.
- Persiapan mental tentu tidak hanya dari diri anda sendiri. Ada keluarga dari kedua belah pihak yang juga akan "dinikahkan".


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah. Percayalah bahwa niat baik, niat yang tulus ikhlas dalam menikah semata-mata untuk menggapai ridho Allah insya Allah akan selalu dimudahkan oleh Allah. Barakallah :)
Pernikahan (image by google.com/images)