Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Kisah Inspiratif Ibunda Risdayati : Jadilah Pribadi yang Bermanfaat

Siang kemarin saya menonton sebuah program berita siang yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta nasional. yang menjadikan acara nonton siang saya  berbeda pada saat itu adalah tayangan tentang perlakuan tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang dilakukan oleh seorang dokter di Kota Pekanbaru, Riau. menariknya lagi adalah yang memperjuangkan ketidakadilan ini merupakan salah satu dosen favorit saya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (FISIP UR). beliau adalah ibunda Risdayati. 

Ketertarikan saya pun membuat saya ingin mencari tahu lebih jauh lagi tentang kasus tersebut dari beliau. bunda risda pun bercerita bahwa LSM tempat bunda bernaunglah yang menangani kasus tersebut. beliau memaparkan betapa tidak manusiawinya perlakuan sang dokter terhadap PRT-nya yang masih di bawah umur. hampir di seluruh tubuh anak tersebut ditemukan bekas luka "digunting". astaghfirullahal'adzim, geram memang melihat perlakuan dokter tersebut. ditambah lagi penanganan yang setengah hati dari pihak yang berwenang dalam penyelesaian kasus tersebut. 

Ikhwah fillah..
Ada satu hal yang menarik menjadi pelajaran bagi saya dan untuk kita semua dari kisah inspiratif bunda Risda. apakah arti sebuah kesuksesan sementara kita tidak bermanfaat bagi orang lain. menjadi pribadi yang cerdas, kaya, tampan dan cantik memang diinginkan oleh semua orang, namun ini bukanlah hal penting yang harus kita raih sebagai manusia.

Rasulullah SAW bersabda:
خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah) 

Bunda Risda adalah potret seorang muslimah yang berupaya untuk memberdayakan diri dan orang-orang disekitarnya untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat sebesar-besarnya pada sesama. beliau memberikan waktu, nasehat, ide serta tenaganya untuk memperjuangkan seseorang yang teraniaya. Kasus penganiayaan terhadap PRT ini saya yakin adalah satu dari banyak hal besar lainnya yang dilakukan oleh bunda Risda. beliau tidak hanya mengajarkan para mahasiswanya tentang ilmu Sosial, beliau mengajarkan dan mendidik mahasiswanya tentang apa arti sosial sebenarnya. bahwa dengan jiwa sosial yang tinggi, dapat memberi manfaat bagi sesamanya.

Semoga Allah memberkahi dan melipatgandakan kebaikan-kebaikan bunda Risda :) allahumma aaamiin...








Rabu, 18 September 2013

Kekuatan Doa Orang Tua



Dr. Abdullah Aidh Al-Qarni, seorang penulis buku best seller “La Tahzan”, mengungkapkan dalam bukunya sebagai berikut:

“Salah satu pintu kebahagiaan terbesar adalah doa orang tua. Berusahalan mendapatkan doa itu dengan berbakti pada orang tua, agar doa tersebut menjadi benteng dari semua hal yang tidak kamu sukai.”

Doa merupakan kunci sukses dunia akhirat. Kekuatan doa menyatakan tentang lemahnya kita seorang hamba dan bentuk keimanan kita terhadap Sang Khalik. Mengutip pendapat Imam Ghazali dalam buku Ihya ‘Ulumuddin bahwa semakin tinggi target yang ingin dicapai, maka semakin sulit jalan yang harus ditempuh, semakin banyak hambatan yang harus kita lalui, maka semakin lama waktu yang dicapai. Segala hal yang terjadi adalah kehendak-Nya. Tidak ada satu pun yang luput dari pengamatannya. Allah yang Maha Kuasa dan Allah yang Maha Menetapkan. Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad menyatakan bahwa :

“Siapa yang enggan berdoa kepada Allah, maka Allah akan murka padanya.”

Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa, sebagaimana Firman-Nya dalam Q.S Al-Mukmin ayat 60 :

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’”.

Dalam hadist lainnya yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, ditegaskan bahwa orang tua memiliki keistimewaan dalam kemustajaban doanya. 

“Tiga kategori doa yang dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan doa seorang musafir (yang bepergian untuk maksud dan tujuan baik)”

Jangan pernah sepelekan kekuatan doa orang tua, khususnya doa mama. Saya selalu mengalami dan merasakan luar biasanya doa mama. Saat akan melakukan hal-hal penting saya pasti meminta bantuan doa mama dan papa. Tidak ada yang lebih tulus, murni dan ikhlas termasuk doa selain dari orangtua.

Jika para pembaca masih tinggal bersama orang tua, datangi dan mintalah doa setulus hati dari mereka. Bagi para pembaca yang tinggal jauh dari orang tua, telponlah mereka. Kalau merasa masih malu-malu, minimal bbm atau sms mereka. Minta maaflah atas kesalahan dan kekhilafan yang telah pembaca lakukan dari lahir hingga detik ini. Mintalah ridhonya. Saya sangat yakin, orang tua para pembaca tentu akan berdoa sesuai dengan harapan pembaca. Percayalah akan kekuatan ketulusan hati orang tua akan memudahkan kehendak dan pertolongan Allah hadir dalam kehidupan para pembaca sekalian.

Kita berdoa, orang tua berdoa. Maka in shaa Allah, Allah akan segera mengabulkan permohonan kita. Begitulah dahsyatnya doa orang tua. Rasakanlah kedahsyatannya. Bukankah untuk mencapai sesuatu kita harus berusaha dan mendapatkan ridho Allah, dan untuk menggapai ridho Allah adalah dengan doa. Doa yang memiliki kekuatan luar biasa adalah doa orang tua. Ayo segeralah :)



Senin, 08 Juli 2013

3 Gaya Wanita yang Tidak Mencium Bau Surga


Ada tiga gaya, penampilan atau mode yang membuat wanita muslimah diancam tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian. Di antara penampilan yang diancam seperti itu adalah gaya wanita yang berpakaian namun telanjang. Yang kita saksikan saat ini, banyak wanita berjilbab atau berkerudung masih berpenampilan ketat dan seksi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Artinya:
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” 
[HR. Muslim no. 2128]

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan,

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ

Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring.

Apa yang dimaksud ketiga sifat ini?

Berikut keterangan dari Imam Nawawi dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim.

(1) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

1- wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

2- wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya.

3- wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna badannya.

(2) Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat

Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini:

1- Maa-ilaat yang dimaksud adalah tidak taat pada Allah dan tidak mau menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksud adalah mengajarkan yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.

2- Maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya.

3- Maa-ilaat yang dimaksud adalah wanita yang biasa menyisir rambutnya sehingga bergaya sambil berlenggak lenggok bagai wanita nakal. Mumiilaat yang dimaksud adalah wanita yang menyisir rambut wanita lain supaya bergaya seperti itu.

(3) Wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring

Maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). (Lihat Syarh Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14: 98-99).

Mode Wanita Saat Ini …

Ada beberapa gaya yang bisa kita saksikan dari mode wanita muslimah saat ini yang diancam tidak mencium bau surga berdasarkan hadits di atas:

1- Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga kelihatan warna kulit.

2- Wanita yang berpakaian tetapi telanjang karena sebagian tubuhnya terbuka dan lainnya tertutup.

3- Wanita yang biasa berhias diri dengan menyisir rambut dan memakerkan rambutnya ketika berjalan dengan berlenggak lenggok.

4- Wanita yang menyanggul rambutnya di atas kepalanya atau menambah rambut di atas kepalanya sehingga terlihat besar seperti mengenakan konde (sanggul).

5- Wanita yang memakai wangi-wangian dan berjalan sambil menggoyangkan pundak atau bahunya.

Semoga Allah memberi petunjuk pada wanita muslimah untuk berpakaian yang sesuai petunjuk Islam. Karena penampilan seperti ini yang lebih menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

Sumber:
3 Gaya Wanita yang Tidak Mencium Bau Surga http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/4401-3-gaya-wanita-yang-tidak-mencium-bau-surga.html

Minggu, 30 Juni 2013

Mempersiapkan Diri Menuju Pernikahan

Banyak yang beranggapan bahwa membekali diri dengan mempelajari buku-buku tentang pernikahan dan mengikuti berbagai pengajian adalah langkah yang cukup untuk mempersiapkan diri menjelang pernikahan. Tidak demikian juga sebenarnya. Sebanyak apapun ilmu tentang pernikahan yang kita serap, sebagus apapun buku yang kita baca dan sepandai apapun konsultan pra-nikah telah membimbing kita, semua pada dasarnya akan kembali lagi kepada kita secara personal. 


Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِي
Artinya:
Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.
[Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 625)]


Menurut saya, pernikahan merupakan tacit knowledge. Pengetahuan yang sulit dikomunikasikan karena tolak ukur kemampuannya berdasarkan pada kebiasaan yang ada pada tiap individu yang melaksanakan lembaga pernikahan. Namun, tacit knowledge ini bisa menjadi explicit knowledge melalui pengalaman-pengalaman yang telah dialami individu tersebut. Beberapa orang ada yang merasa takut untuk menikah karena merasa tidak siap. Khawatir bahwa kehidupan setelah pernikahan tidak akan sebahagia sebelumnya. Khawatir bahwa tidak akan sanggup menyelaraskan diri dengan pasangan, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Boleh saya katakan, ini merupakan hal klasik. Anda tidak sendirian dan semua orang tentu mengalaminya, nah disinilah letak perbedaan antara tiap individu, yakni dalam cara menyikapinya.

Tidak gampang memang, dan janganlah dipersulit. Tetaplah berpikiran positif bahwa anda dan pasangan anda telah ditakdirkan Allah untuk berdua, menjadi sepasang suami istri yang akan selalu bersama berjuang demi kebahagiaan bersama. Saling melengkapi, mengingatkan dan membahagiakan tidak hanya dalam urusan kehidupan duniawi. Ada tujuan yang lebih kekal, yakni berbahagia bersama dan dipertemukan Allah kembali di Jannah-Nya...aamin ya rabbal 'alamin...

Ada beberapa hal yang harus menjadi concern utama bagi yang belum menikah atau yang sedang mempersiapkan pernikahan:
- selain menambah ilmu dengan banyak membaca dan mendengarkan kajian ceramah, rajin-rajin juga sharing dengan ibu, tante atau dengan teman-teman yang telah lebih dahulu menikah. Ambil dan seraplah hal-hal positif. Lika liku dalam berumah tangga nanti pasti akan selalu ada. Disinilah kearifan dan kedewasaan kita diminta dalam menyikapi segala hal yang akan muncul.
- Jadikanlah akhirat sebagai fokus utama kita dalam mendirikan sebuah mahligai rumah tangga. Jadikanlah pernikahan sebagai ladang amal untuk menggapai ridho Allah subhanahu wa ta'ala.
- Persiapan mental tentu tidak hanya dari diri anda sendiri. Ada keluarga dari kedua belah pihak yang juga akan "dinikahkan".


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah. Percayalah bahwa niat baik, niat yang tulus ikhlas dalam menikah semata-mata untuk menggapai ridho Allah insya Allah akan selalu dimudahkan oleh Allah. Barakallah :)
Pernikahan (image by google.com/images)

Jumat, 28 Juni 2013

Feminisme : Pandangan Islam VS Teori Hubungan Internasional

Feminisme adalah sebuah kata yang diambil dari kalimat Perancis (féminisme) dan berasal dari kata Latin (femind), kemudian mengalami sedikit perubahan. Dalam bahasa Inggris dan juga Jerman, kata itu mempunyai arti yang sama. Feminine (feminim) bermakna wanita atau jenis perempuan. Istilah Feminisme dapat digunakan untuk dua makna. Makna pertama adalah makna yang telah digunakan secara umum dan telah dikenal, yakni sebuah pemikiran dan kebangkitan untuk membela hak-hak wanita atas laki-laki dalam dimensi sosial, ekonomi dan politik. 


Gagasan feminis muncul dengan sejumlah gugatan atas kemapanan studi HI yg dianggap male-bias. Kaum feminis menuntut keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam kehidupan masyarakat internasional. Pemikiran ini muncul sebagai kritik terhadap pemikiran mainstream tradisional yang masih mengedepankan state-centric. Sebagaimana pemikiran post-positivist lainnya, feminisme membawa semangat emansipatoris sebagai topik the third debate dalam kajian hubungan internasional.


Mary Wollstonecraft (1759-1799) dalam tulisannya, “Vindication of the Rights of Woman”. Wollstonecraft menuturkan bahwa manusia adalah spesies yang rasional yang dapat menentukan tindakan-tindakannya sendiri. Oleh sebab itu, feminism liberal mengadvokasi kehidupan perempuan yang otonom. Moral bagi feminis liberal tidak ditetukan oleh keluarga, negara, ataupun agama. Tapi setiap perempuan dapat betindak menurut pilihannya sediri asal tidak melawan hukum. Sungguh hal ini bertentangan dengan Islam. Hukum lebih ditakuti ketimbang agama. Naudzubillah...


Feminisme dijual dengan kemasan perjuangan perempuan, pembebasan wanita dan muncullah jargon keseteraan gender. Mereka seolah telah berjuang untuk wanita, peduli akan nasib golongan putri. Sehingga tak pelak lagi anak remaja kini termakan opini tadi. Ini yang mesti kita para keluarga muslim hadapi dengan bijaksana dan hati-hati. Tidak bisa dipungkiri laki-laki dan wanita memang berbeda, ini sunnah ketetapan Sang Pencipta. Perbedaan peran,  perbedaan fisik, tugas serta spesifikasi antara dua jenis kelamin manusia sudah dibawa secara fitrah sejak lahir. Sungguh tidak masuk akal (bagi akal yang sehat dan logis) jika ada yang berkata tak ada pembagian tugas baku antara keduanya, seperti pendapat kaum feminis.

Pembagian peran dan tanggung jawab sosial membawa implikasi pada perbedaan dalam berbagi bidang lain yang terkait dengan kehidupan rumah tangga. Ini yang diperangi para feminis. Berarti feminisme melanggar sunnatullah. Apapun kalau melanggar sunnatullah pasti berakibat pada pergeseran keseimbangan. Timpanglah kehidupan rumah tangga, kehidupan bermasyarakat dan seterusnya. Akhirnya timbul kekacauan.

Sumber : 

Catatan Perkuliahan Pribadi Penulis saat berkuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau 2007-2011

Apakah Feminisme itu? http://islamquest.net/id/archive/question/fa295

Feminisme, Kebaikan atau Kejahiliyahan? http://www.arrahmah.com/read/2011/12/19/16886-feminisme-kebaikan-atau-kejahiliyahan.html

image http://www.onislam.net/english/oimedia/onislamen/images/mainimages/India%20Muslim%20Women%20Demand%20Qur%E2%80%99anic%20Laws.jpg

Bahaya Pandangan Materialistis dan Hedonisme terhadap Umat Muslim

Pandangan materialistis saat ini telah banyak menerpa kehidupan manusia, terutama umat muslim. Yaitu mengedepankan cara pandang tentang kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia fana ini, sehingga aktifitas hidup yang dijalankan hanya berkisar pada masalah bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat dan sikap yang seharusnya dilakukan. Seolah menganggap, bahwa kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta. Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya. Sebagai efeknya, tak jarang wanita juga ikut bekerja membanting tulang, mengerahkan segala cara untuk mendapatkan harta yang banyak. Dalam benaknya, yang berkembang hanya bagaimana bisa menguasai dunia dengan harta berlimpah, seolah kebahagiaan dan ketenangan bergantung dengan harta, sebagaimana dalam firman Allah berikut ini :

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Artinya:

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

[QS. Asy - Syura : 27]


Selain pandangan materialistis, banyak remaja umat Islam yang mengalami penyakit hedonisme. Gemar berhura-hura demi kenikmatan dunia yang sesungguhnya bersifat sesaat. Tidak memikirkan lagi mana yang haram dan mana yang halal. Materialistis dan hedonisme memang merupakan rekanan, setali tiga uang istilahnya. Mengumpulkan kekayaan duniawi demi kepuasan serta prestise yang tentu saja hal ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan jannah yang telah dijanjikan oleh Allah. Kesempitan dalam rizki bukanlah suatu kehinaan, dan kelapangan dalam rizki bukanlah suatu keutamaan. Segala apa pun yang diperbuat Allah akan selalu dalam bingkai “maslahat”, meskipun itu bukan suatu keharusan bagi Nya. Allah maha tahu atas apa yang terbaik dan yang dibutuhkan hambanya. Seorang mukmin dianugerahi kelapangan rizki, karena Allah tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Andai saja ia diberi kesulitan dalam hal rizki, mungkin justru ia akan berbuat kerusakan. Dan seorang mu’min dianugerahi kesempitan dalam rizki, karena Allah pun tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Andai saja ia diberi kelapangan rizki, mungkin justru ia akan berbuat kerusakan. Menyesatkan dirinya sendiri dan melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah.


Segala bentuk keindahan di dunia janganlah dijadikan sebagai tujuan utama kita. Jangan sampai kita terjangkit penyakit wahn, yakni kelemahan umat Islam cinta kepada dunia dan takut kepada kematian. 



عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم -  يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَىعَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ . فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ  حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ


Artinya :
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” 
[HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud]


Gaya hidup seorang muslim tentu harus didasari oleh Al Qur’an dan Sunah, dan menjauhi pedoman, tujuan serta dasar hidup yang lebih mengutamakan kebendawian (pragmatis). Perubahan zaman yang semakin pesat dan mengikuti pola perkembangan sosial yang ada, orientasi kehidupan kaum muslimin semakin hari semakin jauh dari tuntunan Islam. Hal ini karena masyarakat khususnya kaum muslimin tak mengerti dan faham akan definisi dan makna gaya hidup. Ingatlah selalu bahwa dunia merupakan tempat singgah, bercocok tanam. Kita tidak akan menetap lama di dunia ini. Akhirat merupakan tujuan pasti. Gunakan dunia sebagai sarana perbekalan untuk di akhirat kelak.

Sumber:
Rahasia Allah atas si Kaya dan si Miskin (Tafsir QS. Asy-Syura 19-28)
http://lbm.lirboyo.net/rahasia-allah-atas-si-kaya-dan-si-miskin-tafsir-qs-asy-syura-19-28/
Dr. Amir Mahmud al-Maruf: Gaya Hidup Muslim Jauh Dari Tuntunan Islami
http://www.voa-islam.com/news/upclose/2013/03/20/23656/dr-amir-mahmud-almaruf-gaya-hidup-muslim-jauh-dari-tuntunan-islami/

Video Ceramah Singkat: Dunia Hanya Sementara - Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc. - Yufid.TV http://www.youtube.com/watch?v=ldh5QcBMACU

Jumat, 21 Juni 2013

Jilbab bukan sekedar trend




Bismillahirahmanirahim..

Udah enggak aneh kita jumpai muslimah yang berjilbab di negara muslim terbesar di dunia ini. Beragam macam dan jenis jilbab dikenakan oleh mereka, dari yang hanya berjilbab ala kadarnya dengan poni masih terlihat dan tanpa menutupi dada sampai jilbab syari yang menutup penuh aurat mereka. Semua dilakukan oleh muslimah sebagai wujud taqwa atas perintah Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sayangnya jilbab sudah menuai perubahan makna, yang tadinya jilbab adalah pakaian longgar yang menutup seluruh aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki kecuali yang biasa tampak, menjadi hanya sebuah krudung ketat yang menempel erat di leher.

Jilbab juga yang tadinya simbol keimanan dan ketakwaan menjadi sebuah trend fashion yang dapat berubah sewaktu-waktu. Kebiasaan masyarakat yang termakan jaman menjadikan mereka gandrung trend fashion yang lagi “hits” saat ini, tak peduli lagi dengan fungsi jilbab itu sendiri. Tidak usah heran apabila kita temukan di sebuah artikel majalah fashion remaja wanita yang mengulas bagaimana jilbab juga bisa tetap mengikuti trend fashion saat ini dengan aksesoris juga jenis baju/celana yang jauh dari busana muslimah (jilbab) ideal yang sesungguhnya.

Walaupun sering dipaksakan namun pada kenyataanya para wanita muslimah di masyarakat kita banyak yang mengikuti trend tersebut. Entah karena takut ketinggalan jaman atau sekedar hanya ikut-ikutan karena kurangnya pemahaman yang menyeluruh akan artinya jilbab di dalam agama kita.

Arti memakai jilbab bagi beberapa muslimah juga dapat berarti sebuah usaha untuk mencapai sebuah kesalehan instan. Bagi wanita yang mampu memakai jilbab berarti dia sudah layak digelari sebagai seorang muslimah yang sholehah. Kita sudah terlalu sering menyaksikan secara gamblang para wanita yang mengaku berjilbab padahal dia hanya berkerudung dengan memakai pakaian ketat yang masih berkhalwat dengan bukan muhrimnya di tempat-tempat hiburan seperti mall, café dan sebagainya. Mereka sama sekali tidak menghiraukan bahwa kesalahpahaman makna jilbab pada masyarakat bisa berakibat buruk pada muslimah yang benar-benar ingin menjaga Iffah nya. Gara-gara wanita mereka, muslimah yang berharap Kaffah dalam islam terkena efek dari penyamarataan bahwa semua muslimah seperti itu.

Jilbab adalah contoh kesempurnaan agama Islam. Ada begitu banyak faedah mengapa wanita harus mengenakan jilbab. Sudah seharusnya bagi muslimah yang alhamdulillah sudah memutuskan menggunakan jilbab juga untuk segera menata hatinya agar menjadi seseorang wanita muslimah yang hatinya mencerminkan dengan jilbab yang telah ia kenakan. Semoga kita mampu menjadi wanita yang tidak hanya berpenampilan sholehah tetapi juga menjadi wanita yang berhati sholehah.

Wallahu’alam bi Shawwab.

Rabu, 19 Juni 2013

Tasabuh dalam Islam


At - tasabuh fil Islam berarti menyerupai orang kafir dalam Islam..tasabuh merupakan perkara yang haram, terutama dalam hal akhlak dan akidah, namun dalam hal muamalah dan pengetahuan, maka hal ini diperbolehkan. contoh tasabuh yang haram adalah berpacaran, merayakan maulud nabi, dsb..contoh tasabuh yang diperbolehkan adalah meniru semangat Bushido yang dimiliki orang Jepang.


Kita sebagai umat muslim harus percaya diri dengan keimanan dan keislamannya..harus memiliki al izzah al imaniyah; semangat keimanan..seperti firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 139:





Artinya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.


Hukum Tasabuh
  • Surat Al-Maidah ayat 51









Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

  • Surat Luqman ayat 21








Artinya : Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?


  • Surat Al Hadid : 16









Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

As we know, Indonesia is the largest moslem country in the world..namun, teramat disayangkan bahwa tasabuh sangat terlihat dan melekat pada umat Islam di negara ini..berikut beberapa contoh paling sederhananya: lebih hafal penanggalan masehi (januari, februari, …) dibandingkan  penanggalan hijriyah (muharram, safar, …), menamai anak dengan nama yang bukan berasal dari nama Islam,memberikan pendidikan kristen; memasukkan anak ke sekolah non Islam berpacaran, gaya pakaian ala kafir, yasinan, tahlilan, nisfu sya’ban, nuzul qur’an; agenda ini tidak dikenal dalam Islam namun selalu happening di mesjid-mesjid; menjadi semacam perayaan. Indonesia merupakan negara demokrasi, which is demokrasi tersebut tidak sesuai dengan Islam.

So, agar tidak terjerumus dalam tasabuh, kita harus terus belajar ilmu agama..sebagaimana yang difirmankan Allah pada QS. Al-Israa’ : 36








Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Yuk..belajar lebih banyak lagi..
Banyak belajar — belajar banyak :D

Minggu, 16 Juni 2013

Ciri - ciri amalan yang diterima Allah

Melakukan ibadah merupakan hal yang teramat mudah..kita dapat memperbanyak ibadah kita, namun kita (terkadang) tidak menyadari apakah amalan kita tadi telah diterima Allah ataukah hanya untuk melepaskan kewajiban..apalah arti ibadah yang banyak namun ga diterima di sisi Allah *JLEB

Ada empat indikator bahwa amalan yang kita tunaikan diterima oleh Allah, yaitu:
1. Allah jadikan amalannya lebih baik dari sebelumnya dan dirinya lebih baik dari sebelumnya

2. Akan semakin giat beribadah dan muncul rasa takut di dalam hatinya sehingga muncullah keinginan untuk meng-upgrade ibadahnya..
Ini dapat kita lihat di surat Al-Mu'minun ayat 60, yang berbunyi:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Artinya : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Maksudnya: karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

3. Ketika ia meminta sesuatu yang berhubungan dengan akhiratnya maka akan langsung dikabulkan oleh Allah; walaupun permintaan dunianya tidak dikabulkan Allah.

4. Allah jadikan ia tuk selalu istiqomah hingga akhir hayatnya, seperti firman Allah pada surat Fushshilat ayat 30:

إِنَّالَّذِينَقَالُوارَبُّنَااللَّهُثُمَّاسْتَقَامُواتَتَنَزَّلُعَلَيْهِمُالْمَلَائِكَةُأَلَّاتَخَافُواوَلَاتَحْزَنُواوَأَبْشِرُوابِالْجَنَّةِالَّتِيكُنتُمْتُوعَدُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".


Rabbana Taqabbal Minna..

Yaa Allah terimalah amalan yang kami kerjakan..aamin ya rabb..


NB: pengajian ini dirangkum dari pemaparan Ustad Umar Mitha pada pengajian pagi ummahat di Mesjid Ramadhan Bekasi pada hari Jum'at 24 Mei 2013.